Wednesday, December 13Media Muslim

Antara Tong Kosong, Felix Siauw, dan Abu Janda

Ustadz Felix Siauw memberikan tausiyah kepada ribuan umat Islam saat mengikuti reuni 212 di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu (2/12). foto: rep


MUSTANIR.COM, Kebetulan di Indonesia saat ini ada dua sosok ‘seleb’ media sosial yang sama-sama punya banyak pengikut, yakni Felix Siauw dan Permadi Arya alias Abu Janda. Kebetulan dua sosok ini sama-sama baru saja viral lewat perdebatannya pada sebuah acara dialog di stasiun televisi swasta.

Kedua tokoh yang sama-sama dipanggil ustaz oleh pengikutnya itu mewakili dua kelompok berbeda. Mari kita sama-sama membedah latar belakang keduanya. Ini agar tak ada lagi tong kosong di antara kita.

Untuk sosok Felix Siauw kita akan dengan mudah mencari tahu sepak terjangnya. Dia punya banyak karya yang bisa kita jumpai di toko buku-buku besar. Salah satunya buku best seller-nya Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini mendapat apresiasi luas dari kalangan pembaca terkait gaya penulisan dan isinya yang baik.

Di sisi lain, nama Felix jadi semakin dikenal karena dalam beberapa kesempatan usaha dakwahnya di beberapa daerah mendapat penolakan. Felix dianggap anti-NKRI karena dituding menyebarkan ajaran khilafah. Label-label anti-keberagaman dan anti-Pacasila disematkan padanya. Di sisi lain, Felix sendiri sejatinya hidup di tengah keberagaman keluarganya yang beda keyakinan.

Nah, di sisi lain Abu Janda adalah orang yang memproklamirkan diri sebagai orang yang pro-keberagaman. Dia pun mengklaim pro-Pancasila. Sama seperti Felix, pengikut Janda memanggil dirinya ustaz. Tapi di sisi lain, Janda ini kerap menyerang dan menuding secara verbal orang-orang yang dipetakannya sebagai kelompok intoleran, anti-NKRI, dan anti-Pancasila.

Tuduhan ini kerap dilemparkannya di sosial media. Hingga akhirnya mulai terdengarlah nama Abu Janda hingga ke dunia nyata. Tapi untuk melacak karya dan riwayat si Janda ini agak sulit.

Karyanya sulit dilacak selain unggahan di media sosial. Latar belakang pendidikannya juga agak sulit ditelusuri. Saat mencari artikel tentang si Janda ini, malah yang ditemukan adalah bantahan NU soal kaitan sosok Abu Janda ini.

“Dengan nama akun yang tidak jelas, kita mesti berhati-hati dengan akun model Abu Janda ini. Selain tidak jelas profilnya, kita masih meraba motif dan kepentingannya apa,” ujar Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni lewat artikel yang dimuat laman NU.or.id, 9 Januari 2017.

Terlepas dari sosoknya yang sulit dilacak, Abu Janda akhirnya tampil di dunia nyata lewat perdebatannya dengan Felix Siauw di sebuah acara televisi swasta. Lucunya di acara itu, pria yang di akunnya melabeli diri sebagai ustaz itu justru mengaku bukanlah ustaz.

Yang lucu lagi adalah saat Abu Janda berbicara dengan membawa data berupa gambar soal bendera panji Rasulullah. Data yang sudah dia persiapkan itu ternyata dibantah habis oleh Felix Siauw yang menyatakan data tersebut salah.

Hingga akhirnya, Abu Janda jadi sasaran olok-olok netizen. Terlebih dia kemudian membahas soal hadist dhaif yang kemudian dikritisi oleh tokoh NU, Mahfud MD. Mengaku NU tapi ternyata karakternya dinilai sama sekali bukan NU. Lantas siapa sebenarnya Abu Janda ini?

Sontak orang jadi mempertanyakan kredibilitas seorang Abu Janda yang begitu gahar di dunia maya tapi melempem di forum diskusi dunia nyata. Tapi apa pun itu, saya tak setuju dengan orang yang langsung melabeli Abu Janda sebagai sosok tong kosong. Sebab kekeliruan adalah hal yang wajar bagi setiap manusia.

Tapi sebagai sosok publik agaknya Abu Janda memang mesti belajar lebih dalam lagi agar suaranya bisa lebih berbobot dalam memukul lawan debat di dunia nyata. Ini pun agar bisa membedakan warna dan ciri bendera-bendera dalam sejarah. Sebab kalau warna kuning bukannya bendera panji Rasulullah melainkan bendera parpol.

Namun pada sisi lain pula, saya juga setuju dengan pandangan Abu Janda soal Pancasila dan keberagaman. Sebagai warga yang cinta negara, Pancasila dan keberagaman memang sudah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.
Tapi Pancasila dan keberagaman hanya bisa ditegakkan dengan pendidikan. Sebaliknya musuh sesungguhnya Pancasila bukan khilafah melainkan kebodohan.

Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengutip penggalan lagu Slank berjudul ‘Tong Kosong’:

“Tong kosong nyaring bunyinya,

tetapi tong kosong banyak bicara,

oceh sana sini gak ada isi,

otak udang ngomongnya sembarang.”

Oleh: Abdullah Sammy, wartawan Republika

Sumber: republika.co.id/7/12/2017

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *