Saturday, November 18Media Muslim

Bachtiar Nasir, Konsolidasi Garut dan Persatuan Umat Bagian 2

Tabigh akbar Garut 11/11/2017 | foto: rep


MUSTANIR.COM, Garut — Tepat di Lapang Kenrof, tempat dimana pengajian Bachtiar Nasir diadakan sabtu, 11/11/2017 lalu, justru berubah menjadi sarana konsolidasi nasional eksponen 411 dan 212 setelah isu sweeping sebelumnya. Sejumlah tokoh dan massa perwakilan wilayah, termasuk dari Jakarta, Solo, Bangka Belitung dan Aceh hadir di acara tersebut (Republika.co.id 11/11/2017). Ini tentu sesuatu yang menguntungkan bagi GNPF.

Meminjam teorinya Lewis Coser di dalam bukunya “The function of social conflict” ada ungkapan bahwa konflik dengan kelompok lain akan dapat memperkuat solidaritas dan soliditas suatu kelompok. Mengacu pada teori ini, maka semakin GNPF mendapatkan intimidasi dan penganiayaan. sebagaimana selama ini dialami, maka GNPF akan berpotensi semakin membesar dan solid.

Bachtiar Nasir, meski berlatarbelakang Muhammadiyah, ia adalah seorang tokoh yang bisa diterima oleh semua kalangan umat, termasuk NU. Kedekatannya dengan para ulama NU dan kegemarannya bershalawat dan maulidan ala Nahdhiyin, membuatnya bisa diterima oleh warga NU. Inilah salah satu faktor penting mengapa Bachtiar Nasir bisa diterima oleh umat lintas ormas. Kehadiran sejumlah tokoh dan jama’ah Muhammadiyah, NU, Persis dan ormas lainnya di Garut kemarin setidaknya telah menunjukkan bukti penerimaan tersebut.

Suksesnya Bachtiar Nasir mengkonsolidasikan umat merupakan modal besar dalam percaturan politik di Indonesia, terutama untuk kepentingan pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019. Secara politis, posisi Bachtiar Nasir dengan GNPF-nya akan menjadi magnet karena memiliki basis massa ideologis dan fanatik yang cukup besar.

Sejak Habib Rizieq, tokoh utama FPI ini meninggalkan Indonesia, Bachtiar Nasir telah menjadi pemimpin sentral di GNPF. Berkat kepiawaian dan ketekunannya menjalin komunikasi dengan simpul-simpul lintas umat, ia telah berhasil merawat massa dengan solid. Konsolidasi yang terus dibangun oleh pimpinan GNPF ini dengan isu-isu nasionalisme telah berhasil mendorong GNPF menjadi kekuatan yang semakin diperhitungkan di negeri ini. Sebaliknya, segala upaya perlawanan selama ini kepada GNPF justru membuat organisasi ini malah semakin membesar.

Perubahan nama GNPF MUI menjadi GNPF Ulama menunjukkan kemampuan organisasi ini terus beradaptasi dengan siatuasi sosial dan politik yang dinamis. Ini berarti bahwa GNPF Ulama, meminjam istilahnya Durkhem (1858-1917) yang ditulis dalam buku “The Division of Labor in Society”, telah berhasil bermetamorfosis dari solidaritas mekanik (gerombolan demonstran) menjadi solidaritas organik yaitu sebuah kelompok yang lebih terorganisir.

Kritik keras GNPF akhir-akhir ini, yang direpresentasikan oleh sejumlah pernyataan Bachtiar Nasir selaku pimpinan, terhadap pola rekruitmen kepemimpinan bangsa yang pragmatis sebagai biang kerok carut marutnya demokrasi dan tata kelola bangsa, dapat dibaca sebagai bukti nyata kesungguhan GNPF bermetamorfosis menjadi organisasi yang siap menjadi kekuatan alternatif di gelanggang politik negeri ini. Ini artinya bahwa GNPF dengan kekuatan pengaruh massanya punya kesiapan untuk ikut terlibat dan memberi kontribusi langsung terhadap pengelolaan bangsa ini kedepan.

Saat ini, GNPF bisa dikatakan sebagai kekuatan sosial ketiga, setelah NU dan Muhammadiyah, yang sedang tumbuh pesat. Massa GNPF tidak berada di luar NU dan Muhammadiyah, tapi berada di dalam semua ormas Islam. Ini meniscayakan lahirnya peluang politik di satu sisi, tapi sekaligus godaan di sisi yang lain.

Pilihan posisioning GNPF akan menjadi penentu tidak saja bagi nasib organisasi ini, tetapi juga aspirasi umat yang tidak tertampung di program-program partai, khususnya aspirasi menentukan pemimpin masa depan. (republika.co.id/13/11/2017)

*DR Tony Rosyid, Direktur Graha Insan Cendikia

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *