Wednesday, June 20Media Muslim

Analisis

Bagi-bagi THR, Langkah Petahana Amankan Suara di 2019?

Bagi-bagi THR, Langkah Petahana Amankan Suara di 2019?

Analisis, Terbaru
Ilustrasi. foto: Detik Finance MUSTANIR.COM, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberi kepastian kenaikan tunjangan hari raya (THR) bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), prajurit TNI, aparat kepolisian, pensiunan, dan penerima tunjangan. Kebijakan yang direalisasi lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pemberian THR dalam Tahun Anggaran 2018 kepada PNS, Prajurit TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Penerima Pensiun, dan Penerima Tunjangan ini dinilai terlalu politis. Pasalnya kebijakan ini memicu pembengkakan anggaran THR mencapai Rp17,88 triliun setahun sebelum Pilpres 2019. Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai kebijakan ini sebagai manuver Jokowi mengamankan suara sebagai petahana. ...
Negara Muslim Bersatu tak Bisa Dikalahkan?

Negara Muslim Bersatu tak Bisa Dikalahkan?

Analisis, Terbaru
Ilustrasi. foto: Vox MUSTANIR.COM - Tragedi yang terjadi di jalur Gaza selama aksi protes Hari Nakba telah menewaskan ratusan warga Palestina. Jumlah korban tewas akibat aksi pembunuhan oleh tentara Israel tembus di atas 100 jiwa jika dihitung sejak dimulainya protes warga Palestina pada 30 Maret lalu. Bahkan, korban luka telah menembus 12 ribu orang sejak protes untuk memperingati pengusiran warga Palestina oleh Israel tersebut bergulir. Hanya dalam sehari, yakni tepatnya saat Amerika Serikat meresmikan gedung kedutaan besarnya di Yerusalem pada 14 Mei 2018, sebanyak 62 warga Palestina tewas. Lima di antara korban tewas itu adalah anak-anak dan 2.700 orang terluka. Jatuhnya korban tersebut karena tentara Israel menembakkan peluruh dan gas air mata ke arah demonstran yang han...
Misi Jokowi Dekati Umat Islam ‘Dirusak’ Menteri Agama

Misi Jokowi Dekati Umat Islam ‘Dirusak’ Menteri Agama

Analisis, Terbaru
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddi. foto: viva MUSTANIR.COM - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan mengungkapkan sejumlah perjuangan Presiden Joko Widodo menghapuskan persepsi publik mengenai ketidakramahan pemerintah Indonesia terhadap umat Islam, khususnya Ulama. Menyatroni pesantren-pesantren di Tanah Air, bertemu ulama, hadir dalam kegiatan-kegiatan keagamaan umat Islam, misalnya. Namun, menurut Zulkifli, usaha itu akhirnya sia-sia, karena Kementerian Agama kerap membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan upaya Presiden. Teranyar, dengan merilis 200 nama mubalig, yang muaranya bergulirlah wacana sertifikasi ulama di Indonesia. "Saya kira blunder besar yang dilakukan Menteri Agama. Secepatnya tarik dan meminta maaf. ...
‘Rekayasa Terorisme’, Mengapa Polisi Tangkapi Warganet?

‘Rekayasa Terorisme’, Mengapa Polisi Tangkapi Warganet?

Analisis, Terbaru
Ilustrasi. foto: hukumonline.com MUSTANIR.COM, Jakarta - Polri menangkap sejumlah orang yang menuding kasus terorisme belakangan ini sebagai suatu rekayasa. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal menyatakan, penangkapan itu dilakukan agar menjadi pelajaran bagi para pengunggah. “Ini mengancam stabilitas masyarakat. Tolong catat cap rekayasa, Polri tidak nyaman bila aksi ini dikatakan rekayasa. Siapa pun yang menyebut itu (rekayasa), kita tunggu buktinya,” kata Iqbal di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (21/5). Setidaknya, terdapat tiga orang yang ditangkap karena menyebut Polri dan kasus terorisme yang terjadi sebagai rekayasa atau pengalihan isu. Mereka adalah FSA (kepala SMP N Kayong), HDL (dosen di Uni
Satgas Anti SARA Bentukan Polri di Pilkada, untuk Siapa?

Satgas Anti SARA Bentukan Polri di Pilkada, untuk Siapa?

Analisis, Terbaru
Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian | foto: tribunsolo MUSTANIR.COM, Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Rupatama Mabes Polri Jakarta mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum selama proses Pilkada Serentak 2018, terutama politik uang yang sudah dianggap suatu kebiasaan menjelang pesta politik. Ia menyadari bahwa masih banyak anggota masyarakat yang kesadaran demokrasinya rendah sehingga terbuka dengan politik uang tersebut. Karena itulah, Polri membentuk satuan tugas politik uang yang berjalan sejak pendaftaran bakal pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). (KOMPAS.com/11/1/2018). Kemudian menyusul Kapolri mengumumkan kembali bahwa Polri juga akan membentuk satgas anti-SARA. Satgas ini masi...
Mencium Aroma Pencitraan dalam Elegi Asmat

Mencium Aroma Pencitraan dalam Elegi Asmat

Analisis, Terbaru
ilustrasi. foto: panjimas MUSTANIR.COM, Santer diberitakan di sejumlah media bahwa 61 anak suku Asmat di Papua meninggal akibat campak dan gizi buruk sejak September 2017 hingga 11 Januari 2018. RSUD Asmat dilaporkan merawat ratusan pasien campak dan gizi buruk. Sebanyak 393 orang menjalani rawat jalan dan 175 orang rawat inap. (Kompas.com 15/01/2018). Kabupaten Asmat merupakan daerah dataran rendah pesisir pantai, rawa-rawa yang tergenang air, sehingga akses menuju daerah hanya menggunakan speed boat (long boat) dan akses signal telepon belum ada (detik.news 15/01/2018) Beritanya kian menggema hingga menarik perhatian Jokowi dan beberapa pihak untuk bersegera menanggapi kasus kematian anak Asmat ini. Mulai dari Pemkab Asmat, Dinas Kesehatan, Kemenkes, partai politik, bahkan t...
Kasus ‘Kartu Kuning’ UI dan Pasal Penghinaan Presiden

Kasus ‘Kartu Kuning’ UI dan Pasal Penghinaan Presiden

Analisis, Terbaru
ilustrasi. image: mojok.co MUSTANIR.COM, Nama Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, Zaadit Taqwa, mendadak muncul ke pentas politik nasional. Aksi heroiknya mengacungkan 'kartu kuning' di hadapan Presiden Jokowi mendapat respons luar biasa dari publik. Pro kontra atas aksi itu muncul. Namun, Presiden Jokowi memberikan tanggapan yang positif dan siap menerima kritik yang disampaikan sang mahasiswa. Sebagai negarawan, Jokowi mengapresiasi sikap Zaadit dan mengajaknya mengunjungi suku Asmat. Zaadit mengatakan aksi yang dilakukannya merupakan bentuk evaluasi bagi Jokowi dan Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi. Lewat aksi itu, BEM UI meminta Jokowi segera menyelesaikan gizi buruk di Papua, tak menunjuk perwira kepolisian sebagai plt gubernur menjelang...
Guru dan Murid Sama-sama Jadi Korban Sistem Pendidikan

Guru dan Murid Sama-sama Jadi Korban Sistem Pendidikan

Analisis, Terbaru
ilustrasi | netralnews MUSTANIR.COM, SLEMAN -- Baru-baru ini terjadi satu kejadian memilukan saat seorang murid melakukan pemukulan kepada seorang guru yang akhirnya merenggut nyawa sang guru. Sistem pendidikan menjadi salah satu faktor kuat yang dinilai mengakibatkan ini bisa terjadi. Tentu banyak aspek yang harus dilihat dari kejadian ini. Dari aspek psikologi misalkan, efek otak remaja memang membutuhkan satu eksistensi diri. Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang. Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nur Rizal, hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan b...
Faktor Prabowo di Balik Masuknya Jenderal (Purn) ke Kabinet?

Faktor Prabowo di Balik Masuknya Jenderal (Purn) ke Kabinet?

Analisis, Terbaru
Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto berbincang di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11) . foto: rol MUSTANIR.COM, Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi memasukkan dua jenderal ke dalam lingkaran utama pemerintahannya. Mereka adalah Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) dan juga Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar sebagai anggota Wantimpres. Masuknya dua jenderal purnawirawan yang memiliki pengaruh kuat itu bukan tanpa perhitungan dan sebab. Setidaknya ada tiga alasan mengapa Jokowi meramaikan kabinetnya dengan bertaburan bintang-bintang baik dari TNI maupun Polri. Sebelumnya sudah ada Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menko Kemaritiman dan Budi Gunawan yang menjadi Kepala BIN. Pertama, langkah Jokowi ini, menurut pengamat politik dar...
Lima Hari, Dua Ulama Dianiaya, Apa Motifnya?

Lima Hari, Dua Ulama Dianiaya, Apa Motifnya?

Analisis, Terbaru
prosesi sholat jenazah Ust Prawoto. foto: dakta MUSTANIR.COM, Dalam hitungan hari saja dua ulama dianiaya oleh orang yang diduga tidak waras. Ada kemiripan pola penyerangan yang menyebabkan kematian dan luka parah ini. Kesamaan pertama, ulama/ustaz yang menjadi korban penganiayaan itu. Kedua, penyerangan dilakukan oleh orang yang diduga tidak waras alias kemungkinan sakit jiwa. Ketiga, penyerangan dilakukan pada waktu subuh. Kemiripan pola ini bisa terjadi secara kebetulan, bisa juga memang ada yang membuatnya. Jika ada yang membuat tentu ada tujuan-tujuan atau pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada kelompok tertentu. Bisa juga ini bagian dari politik adu domba di tengah panasnya proses politik pilkada serentak khususnya di Jawa Barat. Pakar forensik menilai semua pertan...