Monday, April 23Media Muslim

Fenomena Cacing dan Amanah Kepemimpinan

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan razia ikan kaleng mengandung cacing. foto: rol


MUSTANIR.COM, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menemukan adanya 27 merek produk ikan makarel kemasan kaleng (138 bets) positif mengandung parasit cacing.

“Hasil pengujian menunjukkan 27 merek positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri,” tulis BPOM dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (29/3/2018).

Respon Ringan dari Pemerintah

Saat masyarakat di hebohkan dengan temuan cacing ini, respon pemerintah dalam hal ini Menkes malah menyatakan: “Setahu saya itu (ikan makarel) kan nggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi, atau dimasak lagi, cacingnya mati lah. Cacing itu sebenarnya isinya protein, kalau sudah dimasak kan saya kira juga steril. Insya Allah enggak kenapa kenapa,” kata Menkes saat ditemui di DPR.

Padahal, walau cacing ini disebut mengandung protein- menurut Menkes-, tapi ini sesuatu yang menjijikan, dan sangat tidak layak dikonsumsi. Apalagi bagi umat Islam, selain halal, toyyib juga menjadi keharusan dalam mengkonsumsi makanan.

Apalagi cacing parasit “anisakis simplex” ini konon bisa membahayakan kesehatan seperti apa yang disampaikan Kepala BPOM RI Penny K Lukito, yang mengatakan meski dalam temuannya cacing ini dalam kondisi mati, Penny menjelaskan ada efek samping bagi tubuh saat tidak sengaja mengkonsumsi cacing parasit makanan olahan itu.
“Efek lain adanya alergi, karena protein cacing itu menjadi alergen, aspek higienis ini tidak memenuhi syarat,” ujar Penny. (tribunnews.com/2018/03/31)

Sayangnya, kita pun melihat seolah menjadi tren sikap dan komentar-komentar yang hampir sama dari pemimpin negeri ini, yang seolah terlalu menyederhanakan permasalahan, misalnya saat harga cabe meroket, tanggapannya: “Nanam saja cabe, gitu aja kok repot.. ” atau saat harga daging sapi melejit : “Makan saja keong, kan banyak mengandung protein….”

Kepemimpinan adalah amanah

Cacing bukan sekedar cacing, tapi ia bisa menjadi saksi bersama rakyat akan buruknya sikap pemimpin saat mengurusinya.
Apa yang disampaikan Menkes dan pemimpin lainnya terhadap pengurusan hajat hidup rakyat tentu saja tidak mencerminkan sikap seharusnya sebagai pemimpin yang penuh amanah. Terkesan membela diri, menyederhanakan masalah, seolah menutupi kesalahan yang terjadi, tidak cermat menghadapi masalah hingga mencari solusinya.

Sebagai pemangku pimpinan, mudah baginya untuk menginstruksikan pembenahan dalam import ikan dan makanan olahan ini, bahkan hingga memberi hukuman yang layak bagi pengusaha “nakal” yang mengabaikan higienitas produk yang bisa berakibat buruk bagi rakyat.

Kepemimpinan dalam Islam

Inilah yang terjadi saat agama tidak menjadi spirit kekuasaan, hawa nafsu dikedepankan dibanding tunduk terhadap hukum Allah. Padahal, Imam al-Ghazali menyebut, Islam dan kepemimpinan yang mewujud dalam bentuk kekuasaan seperti dua saudara kembar. Islam menjadi pondasi kehidupan, sedangkan kepemimpinan, dengan kekuasaan yang ada di dalamnya, ibarat penjaga (pengawal)-nya.

Seseorang yang diangkat menjadi pemimpin negara bertugas melakukan ri’ayah syu’un al ummah (mengurusi urusan rakyat). Ini merupakan filosofi pengangkatan seorang pemimpin dalam islam. Oleh sebab itu sekadar melalaikan urusan rakyat—meski tidak berkhianat—sudah serius keburukannya. Nabi saw. memperingatkan:

« مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِى أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لاَ يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلاَّ لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ »

“Tidaklah seorang pemimpin mengurusi urusan kaum Muslim, lalu dia tidak bersungguh-sungguh mengurus urusan mereka dan tidak menasihati mereka, kecuali dia tidak bisa masuk surga bersama mereka” (HR Muslim).

Pemimpin yang sikap dan komentarnya terlihat menggampangkan urusan rakyat, tidak peduli terhadap nasib rakyat, tidak berempati terhadap rakyat, bahkan menyalahkan rakyat, termasuk pemimpin yang masuk dalam ancaman tersebut. Apalagi jika pemimpin dengan sengaja tanpa rasa bersalah membuat kebijakan-kebijakan yang menyusahkan rakyat, tentu ancamannya lebih besar lagi. Pemimpin seperti ini bahkan didoakan dengan doa yang buruk oleh Nabi saw.:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»

“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu menyusahkan mereka, maka susahkan dia” (HR Muslim dan Ahmad).

Naudzubillahimindzalik
Wallahu’alam bishshawab.

Oleh: Evi Resmaladewi, S.P

Share This :