Tuesday, August 22Media Muslim

Inilah Yang Harus Dilakukan Para Orang Tua Agar Anaknya Menjadi Generasi Taat dan Cinta Agama

Inilah Yang Harus Dilakukan Para Orang Tua Agar Anaknya Menjadi Generasi Taat dan Cinta Agama

MUSTANIR.com – Prihatin rasanya membaca tulisan seorang remaja yang menggugat ‘agama warisan’ pada umat Muslim. Tulisan yang singkat namun penuh kekeliruan itu lalu diviralkan oleh orang-orang yang sejak awal sudah emoh dengan eksklusivitas agama. Orang-orang yang tidak setuju kalau agama memang menciptakan rasa dan pikiran tertutup bagi penganut lain. Padahal kenyataannya memang agama pasti menciptakan sikap ekslusif dalam keyakinan dan menumbuhkan ikatan kuat dengan sesama pemeluk agama. Meski bukan berarti selalu menciptakan permusuhan.

Tulisan remaja itu, apakah itu orisinil buah pikirannya sendiri, atau ada yang men-direct-nya, menggambarkan krisis pemahaman Islam pada remaja yang menuliskannya. Ia tidak paham kalau hukum agama memang turun kepada anak dan keturunan, namun demikian dalam Islam setiap anak yang telah masuk aqil baligh harus dibina akalnya agar sampai pada level meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Pembuktian itu adalah hal yang dapat dijangkau akal dan memuaskannya, sesuai fitrah dan menentramkan hati.

Demikian mudahnya membuktikan kebenaran ajaran Islam, keberadaan Allah dan kesucian al-Qur’an, sampai-sampai orang-orang di luar Islam pun bisa dengan mudah menerimanya untuk kemudian memeluk agama Islam. Bukankah banyak hal demikian? Saya tidak tahu apakah remaja penulis makalah itu pernah mendengar pengalaman spiritual Ustadz Felix Siauw, misalnya, yang penuh pergolakan pemikiran sampai kemudian dibanjiri hidayah dari Allah?

Krisis pemikiran yang dialami gadis belia itu saya khawatirkan menggejala di tengah-tengah kehidupan kaum muda kita. Banyak kawula muda yang tidak terasah akalnya untuk mencapai pembuktian kebenaran Islam. Sementara media massa, buku bacaan, film tontonan banyak mengarahkan masyarakat untuk menjadi penganut agama yang terbuka, pluralis, bahkan sinkretis. Ujungnya adalah membuat umat Muslim, khususnya kawula muda tidak percaya lagi dengan kebenaran agama. Bahkan mereka bisa on-off sesuka hati dari keislamannya.

Allah SWT. sudah mengingatkan kita akan muncul generasi semacam ini. FirmanNya:

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan(TQS. Maryam: 59).

Lalu siapakah yang paling bertanggung jawab atas kesalahan pemikiran anak-anak itu? Sudah pasti orang tuanya.

Orang tua yang tidak menguatkan keimanan anak-anaknya pada Islam, akan membuat agama Islam itu seperti ‘agama warisan’. Sesuatu yang kebenarannya di mata anak-anak adalah relatif dan bisa ditukar dengan kepercayaan apa saja. Mereka memandang Islam itu serupa dengan Kristen, Budha, Hindu, Kong Ho Cu, Kejawen, Sunda Wiwitan, Lia Eden, dll. Keadaan inilah yang dicemaskan oleh Nabi Ya’qub as. menjelang akhir hayatnya. Maka ia bertanya dengan tegas dan penuh harap pada putra-putrinya;

Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (TQS. 2: 133).

Anak adalah produk didikan orang tua, dimana orang tua adalah sekolah pertama dan guru pertama untuk setiap anak. Orang tua bisa membawa anak ke jalan Islam, atau malah membelot darinya.

Benar, saat memasuki usia akil baligh merekalah yang menentukan pilihan hidup. Mereka bisa istiqomah di jalan Islam, atau malah membangkang, seperti Kan’an putra Nabiyullah Nuh as. Namun, sejak dini orang tua semestinya bekerja keras menguatkan pondasi keislaman setiap anak mereka. Tetapi bila orang tua melepas begitu saja pemikiran anak, maka yang akan terbentuk adalah generasi muda muslim yang serba ‘nanggung’, yang menganggap agama adalah warisan, yang belum tentu benar malah bisa kemungkinan salah, lalu menuduh orang-orang istiqomah di jalan agama sebagai pembuat onar, intoleran, dan merongrong kebangsaan.

Apa yang harus dilakukan orang tua agar anak-anak kaum muslimin menjadi generasi yang taat, cinta pada agama, dan meyakini hanya Islam sebagai satu-satunya agama yang benar?

Pertama, di usia pra-baligh tanamkan Allah sebagai satu-satunya Ilah, Pencipta alam semesta dan manusia. Ketika mereka masuk usia tamyiz/sudah bisa berpikir, apalagi usia jelang remaja, ajak mereka untuk berpikir sederhana namun logis tentang kebenaran Islam, kebenaran Allah SWT. sebagai Pencipta, kebenaran kenabian Muhammad SAW., kebenaran al-Qur’an.

Kedua, lindungi anak dari pemahaman yang melemahkan akidah seperti sekulerisme, pluralisme, termasuk tahayul, khurafat dan paganisme. Terangkan dengan sejelas-jelasnya bahwa semua itu adalah batil. Saat mereka sudah masuk level mumayiz dan remaja penjelasan itu bisa dirinci lebih dalam, ilmiah, dan dibarengi dalil.

Ketiga, ajak anak agar turut dalam perjuangan menegakkan agama Islam sehingga dalam diri mereka juga menggelora semangat untuk berdakwah. Sampaikan pada mereka bahwa dakwah itu bukan untuk memaksa orang memeluk Islam, tapi untuk menyelamatkan mereka dari keyakinan yang batil dengan bil hikmah (penuh ilmu dan argumentasi) dan mujadalah (diskusi/perdebatan) yang baik, bukan saling mencaci.

Ala kulli hal, setiap orang yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, mengaku sebagai muslim, sudah semestinya mendalami agamanya sehingga semakin tumbuh keyakinan bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar. Keyakinan itu akan mendorong mereka untuk melaksanakan ajaran Islam agar bumi ini diliputi rahmat dari Allah SWT.

Selamatkanlah akidah anak-anak kita, agar mereka berada di jalan Allah SWT. (iwanjanuar.com, 23/5/2017)

Judul Asli : Agar Agama Anak Kita Bukan ‘Agama Warisan’
Penulis : Iwan Januar

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *