Friday, August 18Media Muslim

Jerat-Jerat Syaithan Dalam Menggoda Manusia

bola-api-girlsjustwannahavegunsdotcom

Jerat-Jerat Syaithan Dalam Menggoda Manusia

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Ma’syiral muslimin jama’ah shalat jum’at Rahimakumullahu,

Setelah kita memuji, mengangungkan Allah Ta’ala dan bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang Allah limpahkan dalam kehidupan kita. Marilah pada kesempatan yang mulia ini, saat hati dan anggota badan kita digerakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memenuhi panggilan-Nya. Kita kembali kuatkan keimanan dan memperbaiki keislaman kita sehingga kita benar-benar menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa.

Ma’syiral muslimin jama’ah shalat jum’at Rahimakumullahu,

Satu kaidah di dalam agama Islam, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala di penghujung kehidupan kita di akherat nanti Ia telah menciptakan adanya surga dan neraka. Apa artinya? Adanya surga dan neraka memberikan makna kepada kita, berarti tidak semua manusia masuk ke surga. Kalau ada pertanyaan: “Berarti ada manusia yang di neraka? Jawabannya “Iya”. Ketika Allah Ta’ala menciptakan surga dan neraka, menegaskan kepada kita bahwa tidak semua manusia akan masuk ke dalam surga, akan ada manusia yang di neraka. Kalau Allah Ta’ala menginginkan semua hamba-Nya masuk surga, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut nafsu yang ada dalam diri manusia dan mematikan syaithan dalam kehidupan kita. Permasalahan selesai.

Tapi perjalanan kehidupan kita, skenario yang dibuat oleh Allah Ta’ala dalam kehidupan yang kita jalani, diujungnya ada surga dan neraka. Di awal ada fitrah yang Allah berikan kepada kita, di tengah kehidupan kita ada nafsu yang terus mengajak kepada keburukan dan ada syaithan diluar diri kita. Karena itu, manusia dalam kehidupan ini secara langsung ia melawan dua kekuatan; bagaimana menundukkan nafsunya dan bagaimana ia selamat dari tipu daya syaithan yang akan menyesatkan dirinya. Allah Ta’alaberfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (٥)إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (٦

“Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 5-6)

Dua ayat di atas bukan ditujukan kepada orang beriman saja, namun ditujukan kepada seluruh manusia, keturunan Adam ‘Alaihissalam untuk mengingatkan bahwa apa yang dijanjikan Allah Ta’ala adalah benar. Dan jangan sampai dua hal (kehidupan dunia dan syaitan yang menipu) memperdaya diri kita, sehingga lupa kepada Allah Ta’ala. Dan syaithan telah disebutkan Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٨٢)إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٨٣

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka .” (QS. Shad : 82-83)

Dan Allah Ta’ala di setiap surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an, peringatan tersebut selalu diulang agar menjadi peringatan bagi orang beriman dalam kehidupannya.

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullahu

Syaithan dalam upayanya menjebak manusia dalam kehidupan sehingga terjauhkan dari Allah Ta’ala. Dan ketika diujung kehidupannya nanti, bukan berada di surga yang menjadi wujud kebahagiaan yang tidak ada kesusahan di dalamnya. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu menjelaskan bahwa tipu daya yang dilakukan syaithan untuk menjebak manusia adalah mengajak kepada kekufuran dan kesyirikan.

Dalam realitas kehidupan kita bisa menghitungnya. Berapa jumlah kaum muslimin di seluruh dunia ini? Kalau kita hitung, sebagian besar manusia tidak lepas dari jebakan syaithan yang pertama, mengajak manusia untuk ingkar dan mempersekutukan Allah Ta’ala. Ketika manusia bisa lolos dari jebakan yang pertama, syaithan tidak berhenti untuk menggoda manusia. Dari yang selamat itu, syaithan melancarkan jebakan kedua yang disebut dengan bid’ah. Oleh Ibnu Qayyim Rahimahullahu dijelaskan dengan: “Orang melaksanakan ibadah di dalam agama, tidak dibingkai dengan ilmu”.

Bisa kita pahami apa jadinya ketika orang beribadah kepada Allah tidak dilandasi dengan ilmu, maka orang tersebut banyak melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diperintahkan. Realitas kehidupan memberikan pelajaran kepada kita, bisa kita hitung berapa banyak aliran-aliran pemikiran, kelompok yang mengatasnamakan Islam, tapi menyimpang dari Islam. Satu kajian lembaga di Jakarta yang melakukan investigasi penelitian aliran-aliran menyimpang dalam Islam, maka ditemukan di Jawa Barat, hampir tiap minggu muncul satu aliran yang mengatasnamakan Islam tapi bukan Islam. Inilah tipu daya syaithan.

“Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir : 6)

Ketika manusia selamat dari jebakan atau tipu daya kedua, maka syaitan melanjutkan dengan jebakan ke-tiga yaitu mengajak manusia kepada dosa-dosa besar.

Syaitan memunculkan di dalam pikiran manusia bagaimana menjadikan dosa-dosa besar ini dianggap logis, indah dan manusiawi. Sehingga istilah-istilah yang baku di tengah masyarakat dirubah dengan istilah-istilah yang lebih elegan dan manusiawi. Dan ini sudah menjadi program dunia. Dalam salah satu konferensi yang diadakan di Mesir, yang kemudian melahirkan undang-undang yang bernama shadow. Di situ digulirkan di tengah kehidupan kaum muslimin, bagaimana kaum muslimin mengakui LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Dan bagaimana menyusupkan di tengah keluarga umat Islam, “Kalau wanita ingin berdaya dan berkembang karirnya, jangan mau tunduk di bawah kekuasaan laki-laki”. Istilah gender, istilah pemberdayaan perempuan dan istilah lain yang mereka buat dimasukkan ke dalam dunia Islam.

Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه, والمرأة المترجلة, والديوث…”

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts…” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dalam Kitabul Kaba-ir, hal. 55 dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, no. 284. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/498 mengenai makna hadits ini)

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari, 10/406. Makna ini disebutkan dalam riwayat lain dari hadits di atas dalam Musnad Imam Ahmad, 2/69. Akan tetapi sanadnya lemah karena adanya seorang perawi yang majhul/tidak dikenal. Lihat Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, 2/284).

Lawannya adalah al-gayur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 9/357)

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat, di antaranya perbuatan ad-diyatsah/ad-dayytus (membiarkan perbuatan buruk dalam keluarga) yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghirah dalam hati pelakunya, beliau berkata, “…Oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk surga, demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan zhalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghirah dalam diri seseorang. Ini semua menunjukkan bahwa asal pokok agama seseorang adalah sifat ghirah. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghirah maka berarti dia tidak memiliki agama (iman). Karena sifat inilah yang akan menghidupkan hati manusia yang kemudian menghidupkan kebaikan pada anggota badannya, sehingga anggota badannya akan menolak semua perbuatan buruk dan keji dari diri orang tersebut. Sebaliknya, hilangnya sifat ghirah akan mematikan hati manusia yang kemudian akan mematikan kebaikan pada anggota badannya, sehingga sama sekali tidak ada penolak keburukan pada dirinya…” (Kitab Ad-Da-u wad Dawaa’, hal. 84)

Adapun keburukan terhadap agama istri dan anak-anaknya, dengan membiarkan atau menuruti keinginan mereka dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat, ini berarti menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehancuran. Seorang istri bagaimana pun baik sifat asalnya, tetap saja dia adalah seorang perempuan yang lemah dan asalnya susah untuk diluruskan, karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ditambah lagi dengan kekurangan pada akalnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة”

“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga dia tidak bisa terus-menerus dalam keadaan lurus jalan hidupnya.” (HR. Muslim no. 1468)

Seseorang telah hilang kepekaan agamanya, hilang sensitifitasnya, orang tidak peduli lagi dengan agama istri dan anaknya, perhatian tentang moralitas sudah tidak ada dalam kehidupan.

Istilah zina masih tabu ditengah kehidupan umat. Bagaimana agar hubungan yang tidak diikat dengan ikatan yang sah menjadi legal dan manusiawi. Maka dibuatlah bahasa yang nampak lebih elegan yaitu bahasa selingkuh. Dan itu tidak bisa dijerat hukum ketika dilakukan suka sama suka. Walaupun ada ikatan resmi ketika isteri tidak mau melayani suaminya, dia berhak melaporkan suaminya ke pengadilan dan kepolisian, dan suaminya bisa dijerat dengan hukum. Hal ini pernah terjadi di Depok, seorang suami dipenjarakan oleh istrinya selama 3 bulan.

Syaithan tidak akan membiarkan umat manusia istiqamah di dalam keimanan. Lolos dari jebakan kekufuran, ia jerat dengan kebid’ahan, kemudian ia jebak dengan dosa-dosa besar, sehingga dosa besar tersebut dianggap manusiawi, logis dan indah.

Setelah manusia lolos dari tiga jeratan di atas, maka syaitan akan melancarkan jeratan selanjutnya, yaitu dengan meremehkan dosa-dosa kecil, dan begitu seterusnya. Ketika dengan jebakan-jebakan dosa, masih ada hamba-hamba Allah yang selamat, maka syaitan akan melakukan penyerangan fisik, merusak citra, menghilangkan citra baik pada diri seseorang.

Ketika sudah tidak bisa dijebak dengan kekufuran, kebid’ahan, dosa besar dan dosa kecil, maka tidak ada cara yang lain melainkan citra seseorang harus dihancurkan. Sehingga yang awalnya masyarakat mengenalnya dengan baik menjadi buruk citranya. Bahkan bisa jadi dengan mengilangkan nyawa orang-orang shalih. Inilah tantangan manusia khususnya orang-orang beriman di dalam kehidupan, maka ia akan senantiasa berhadapan dengan syaithan, karena syaithan telah meminta penangguhan kepada AllahTa’ala hingga saat manusia dibangkitkan.

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٤)

“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS. Al A’raaf : 14)

Mengantisipasi Jeratan Syaithan

Dari semua jebakan yang ada, kita bisa mengukur batas keimanan kita. Kemudian Ibnu Qayyim Rahimahullahu menjelaskan bagaimana mengantisipasi semua jebakan-jebakan di atas.

Yang pertama adalah dengan membekali diri dengan ilmu.

Kedua, bangunlah lingkungan yang baik, hadirkan diri kita bersama orang-orang shalih.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)

“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’ : 69)

Sekarang kita tidak mungkin berkumpul dengan Nabi, namun setidaknya kita masih ada peluang berkumpul dengan para Shiddiqin, atau para Syuhada’ ataupun orang-orang shalih. Tapi ketika kita lepas dari kumpulan orang-orang shalih, sedikit demi sedikit keimanan kita akan hilang. Nabi Yusuf, Ibrahim ‘Alaihimassalam dan lainnya saja berdoa kepada Allah Ta’ala untuk dikumpulkan bersama orang-orang shalih, apalagi kita ?!

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (١٠١)

“Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf : 101)

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (٨٣)

“(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,”” (QS. Asy Syu’araa’ : 83)

Ketiga, kenali dengan baik titik lemah keimanan dalam hidup ini agar kita terhindar dari jebakan syaitan. Jika titik lemah kita adalah godaan dunia, maka mintalah dunia kepada Allah secukupnya, agar tidak menjadikan kita lupa kepada-Nya. Kalau titik lemah adalah wanita, jangan sampai pernah sendirian bersama wanita lain. Jika titik lemah ada pada kedudukan, kekuasaan, kepemimpinan, maka jangan meminta kekuasaan yang tidak mampu kita memikulnya.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan, keistiqamahan, kita bisa senantiasa mengantisipasi jebakan-jebakan syaitan yang terus memperdaya manusia dan juga mampu mengendalikan nafsu kita yang selalu mengajak kepada keburukan, sehingga di ujung kehidupan ini Allah berikan husnul khatimah yang mengantarkan kita menjadi penghuni surga-Nya.

وصلى الله على محمد وعلى آله وأصحابه وسلم

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا اله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى ِفْي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

– See more at: http://www.ansharusyariah.com/read/sariyah-dakwah/681/khutbah-jumat-edisi-049-jeratjerat-syaithan-dalam-menggoda-manusia/#sthash.9g1gw0My.dpuf

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *