Wednesday, June 20Media Muslim

Menempatkan Peranan Ibu dalam Peran Politik Perempuan

Inilah wajah ibu-ibu AILA yang dianggap “berbahaya” karena melakukan Uji Materi Pasal Perzinaan dan Homoseksual. foto: hidayatullah


MUSTANIR.COM, Dua tahun menjelang Pemilu 2019, berbagai persiapan dilakukan oleh pemerintah beserta jajaran menteri dan lembaga-lembaga terkait. Yang cukup menjadi sorotan adalah perlu adanya peran politik perempuan. Peran politik perempuan semakin banyak disosialisasikan seiring dengan semakin gencarnya sosialisasi ide kesetaraan gender.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, Yohana Yembise berharap perempuan-perempuan di Indonesia memiliki minat yang tinggi terhadap politik. Ia pun mengatakan saat ini dirinya tengah mempersiapkan agar jumlah perempuan di legislatif meningkat.

Sedangkan menurut Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo menuturkan bahwa pemerintah telah memiliki komitmen untuk meningkatkan representasi politik perempuan dalam parlemen pada Pemilu 2019. Dikatakan Tjahyo bahwa tantangan perempuan legislatif 2019 ada dua yaitu tantangan internal dan tantangan eksternal.

Tantangan internal seperti terbatasnya perempuan yang berkualitas, dan memiliki kualifikasi, sedangkan tantangan eksternal adalah seperti kendala kultural yang cenderung patriarkis (laki-laki minded) perempuan lebih cocok sebagai tiyang wingking yang mengikuti laki-laki.

Maka diharapkan calon perempuan legislatif harus tampil sebagai manusia paripurna yang penampilan politiknya senantiasa mengembangkan nilai-nilai kemanusian yang adil. Perempuan calon legislatif harus mampu menebar senyum dan keramahan politik untuk menyapa konstituen baik di pedesaan maupun perkotaan.

Maka dari itu, masih menurut Tjahyo, Pemerintah mempunyai komitmen kuat untuk meningkatkan 30% keterwakilan perempuan di parlemen pada Pemilu 2019 dalam rangka menyukseskan pembangunan Nasional. Selain itu dikatakannya pemerintah ingin menghilangkan pemikiran yang sudah terbentuk, yakni bahwa dunia politik ini hanya di dominasi laki-laki. Padahal perempuan juga bisa berada di ranah politik. Pemerintah pun bakal memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam kancah politik.

Semua hal di atas dilakukan agar perempuan lebih berdaya dan bisa memiliki akses politik seluas-luasnya sehingga akan ada kesetaraan dengan lelaki. Harapannya pula, perempuan bisa mendapatkan solusi-solusi praktis secara politik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan peran domestik yang dimiliki perempuan sebagai ibu, pengatur rumah tangga, dan pendidik generasi, sering dianggap terpisah bahkan bertentangan dengan peran politik perempuan. Ketika seorang perempuan akan terjun ke dunia politik, maka dia harus memilih : apakah menjadi ibu rumah tangga yang berkualitas ataukah akan menjadi politikus? Dua ‘profesi’ yang tidak memungkinkan berjalan beriringan dan cenderung berlawanan arah. Pasti akan menimbulkan dilema besar bagi seorang perempuan ketika harus menghadapi kondisi ini.
Jangan Pernah Abaikan Peran Ibu

Tak bisa dipungkiri bahwa ibu memiliki peran yang sangat besar dalam proses pembentukan generasi suatu bangsa. Ibu adalah sosok serta sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sejak dalam kandungan, ibu sudah mempengaruhi baik secara fisik maupun psikologis.

Menyusui adalah proses berikutnya yang akan menciptakan bonding (kelekatan) kuat dengan anak. Ibu lah yang memberi coretan dan warna pada tiap lembar kehidupan anak. Pengorbanan dan keikhlasan ibu dalam merawat anak-anaknya akan menentukan kelestarian dan kualitas generasi mendatang.

Bisa dibayangkan jika para ibu sudah tidak sudi mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak. Apakah akan ada generasi berikutnya? Atau mungkinkah akan tercetak generasi berkualitas nan gemilang jika para ibu hanya mau hamil dan melahirkan namun tidak mau menyusui dan merawatnya?

Dalam kehidupan liberalistik kapitalistik saat ini, dan juga hedonistic, tidak bisa dipungkiri bahwa kelimpahan materi serta kebebasan individu merupakan sebab utama kenapa kaum perempuan mengabaikan peran hakikinya baik sebagai hamba Allah maupun sebagai ibu. Muslimah lupa bahwa esensi keberadaannya di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah. Setiap individu muslim hanya boleh memilih ketika Allah dan rasul-Nya memang memberikan keridloan-Nya.

Ketika muslimah ingin mengejar kebebasannya, maka dia akan sulit melihat kerusakan pada skala keluarga dan bangsa karena dia telah mengabaikan perannya sebagai ibu. Peran ibu dalam pandangan kebebasan adalah sebuah pilihan, di mana seorang perempuan memilih menjadi ibu bukan karena paksaan namun sukarela.

Pun ketika memilih peran di luar peran domestiknya, maka perempuan juga tidak boleh dipaksa kembali pada pilihan menjadi ibu. Tentu ini pandangan rusak yang akan merusak gnerasi mendatang. Lihatlah negara-negara yang mencoba mengubah struktul fundamental keluarga terutama melalui perubahan relasi gender dalam keluarga.

Contoh nyata adalah Negara Skandinavia yang telah melakukan berbagai kebijakan baik melalui undang-undang maupun program yang tujuannya adalah mengubah struktur keluarga tradisional. Wanita dibebaskan untuk bekerja seluas-luasnya pada sector public dan pemerintah memberi fasilitas penitipan anak secara besar-besaran karena wanita dibebaskan dari peran-peran pengasuhan anak. Namun apa yang terjadi sungguh di luar perkiraan mereka.

Angka perceraian meningkat tajam karena perempuan merasa mandiri secara finansial dan tidak bergantung lagi kepada laki-laki. Anak-anak kering dari kasih sayang orang tuanya serta tidak mendapatkan pendidikan moral yang memadai. Akibatnya timbullah masalah-masalah social seperti kenakalan remaja, kriminalitas, alcohol, penggunaan obat-obatan terlarang, dll.

Seperti itukah kondisi masyarakat yang kita cita-citakan? Tentu jawabnya tidak! Oleh karena itu, wahai kaum perempuan, jangan pernah abaikan peranmu sebagai ibu!

Peran Ibu Yang Berdimensi Politik

Agar perempuan bisa beraktifitas dan mempunya peran politik namun tidak mengabaikan peran utamanya sebagai ibu, pengatur rumah tangga, dan pembina generasi, maka harus terlebih dahulu memilik pemahaman yang menyeluruh tentang politik dan tujuan politik yang benar menurut Islam.

Selama ini kita mendefinisikan politik seolah-olah hanya untuk mencari kekuasaan. Di dalam Islam, politik (siyasah) adalah pengaturan atau pengurusan urusan umat, baik di dalam maupun di luar negeri. Penguruan ini dilakukan secara langsung oleh kepala negara, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Imam (khlaifah/kepala Negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan diintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Sistem pengaturan yang tangguh akan ada apabila system itu dibangun di atas dasar-dasar hukum Allah dan sistem itu dijalankan dan dikontrol oleh sumber daya manusia yang menginginkan keridhoan Allah. Datangnya sumberdaya-sumberdaya tersebut tentunya muncul dari rahim, pengasuhan, dan pendidikan para ibu. Ibu yang paham betul akan peran utamanya tersebut serta memahami kedudukannya sebagai hamba Allah. Para ibulah yang akan mencetak kader-kader politisi yang tangguh dan memahami hukum Islam.

Selain menjalankan peran poltiknya yang utama di dalam rumah, Islam juga mewajibkan kaum perempuan secara individual untuk tidak berdiam diri terhadap kemaksiyatan. Islam juga membolehkan perempuan menjadi anggota majelis umat dan memilih penguasanya. Selain itu, Islam juga menetapkan kewajiban kolektif untuk bergabung dalam partai politik atas dasar aqidah Islam.

Keselarasan Aktifitas Ibu dan Peran Politik Perempuan

Seorang ibu ketika menjalankan peran politiknya baik dalam ranah domestik maupun publik maka harus berupaya menyelaraskannya dengan serasi dan seimbang. Kewajiban individual harus didahulukan dan diutamakan disbanding kewajiban kolektif. Namun bukan berarti meninggalkan kewajiban kolektif tersebut. Ketika ada benturan aktifitas, maka kewajiban harus diutamakan disbanding aktifitas mubah/boleh.

Namun tentu tidak mudah bagi seorang perempuan untuk bisa berperan ideal. Saat ini yang bisa segera dilakukan adalah meningkatkan kualitas diri agar mampu menjalankan semua peran tersebut dengan optimal. Para ibu perlu mengikuti pembinaan secara rutin dan berkesinambungan sehingga bisa memantapkan pemahaman terhadap aqidah dan syariat Islam secara komprehensif. Selain itu juga perlu membekali diri dengan pemahaman tentang bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan perkembangan fisik dan mentalnya pada tiap masa dan fase kehidupannya.

Demikian ketika perempuan memahami dengan baik aqidah Islam beserta hukum-hukumnya, maka peran-peran tersebut justru akan saling mengokohkan dan menguatkan satu sama lain. Landansan semua perbuatannya adalah mendapatkan setingi-tingginya ridla Allah SWT. Wallahu ‘alam.

Oleh : Ummu Enzi (Anggota Komunitas Revowriter)

Share
Share This :