Monday, June 26Media Muslim

Pertanyaan Paling Sulit Untuk Rasulullah ﷺ

Pertanyaan Paling Sulit Untuk Rasulullah ﷺ

MUSTANIR.com – Rasulullah saw saat memperjuangkan Islam pernah mendapat pertanyaan sulit sekali, yang memang tak mungkin bisa dijawab. Rasulullah hanya menjawabnya dengan diam. Iya, diam itulah jawaban beliau.

Terus terang pertanyaan itu juga sering diajukan pada zaman sekarang meskipun dalam bentuk dan konteks yang berbeda.

Pertanyaan itu adalah:

يا محمد ، أنت خير أم عبد الله ؟
أنت خير أم عبد المطلب ؟ فإن كنت تزعم أن هؤلاء خير منك ، فقد عبدوا الآلهة التي عبت ، وإن كنت تزعم أنك خير منهم فتكلم حتى نسمع قولك

“Wahai Muhammad, siapa yang lebih baik: kamu atau Abdullah (bapakmu)? Siapa yang lebih baik: kamu atau Abdul Muthalib (kakekmu)? Jika memang sekiraya mereka lebih baik dari kamu, sungguh mereka telah menyembah tuhan yang kamu cela. Jika memang kamu merasa lebih baik dari mereka, bicaralah sehingga kami mendengar ucapanmu?”

Sungguh, ini adalah pertanyaan sangat cerdas untuk membuat peta kompli kepada para aktivis dakwah.

Menganggap diri lebih baik dari nenek moyang dan para pendahulu, adalah sikap kesombongan yang sangat mudah dipatahkan secara intelektual karena seseorang pasti berhutang hampir dalam segala hal kepada nenek moyang dan pendahulu. Menjawab pendahulu lebih baik, juga jawaban mematikan, sebab jika generasi dulu lebih baik, mengapa harus bicara perubahan, mengapa tidak melestarikan saja apa yang telah digagas dan diwarisi dari nenek moyang dan pendahulu?

Dalam hal ini, yang dapat dilakukan Rasulullah hanya diam. Iya, diam. Sekali lagi, diam adalah jawabannya.

*****
Berikut kisah lengkapnya pada Tafsir Ibnu karya Syeikh Ismail ibn Umar ibn Katsir Al Quraisyi Ad Dimasyqi halaman Juz 7 halaman 161-163, cetakan 1422 H cet Dar Taibah:

قال الإمام العلم عبد بن حميد في مسنده : حدثني ابن أبي شيبة ، حدثنا علي بن مسهر عن الأجلح ، عن الذيال بن حرملة الأسدي عن جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – قال : اجتمعت قريش يوما فقالوا : انظروا أعلمكم بالسحر والكهانة والشعر ، فليأت هذا الرجل الذي قد فرق جماعتنا ، وشتت أمرنا ، وعاب ديننا ، فليكلمه ولننظر ماذا يرد عليه ؟ فقالوا : ما نعلم أحدا غير عتبة بن ربيعة . فقالوا : أنت يا أبا الوليد . فأتاه عتبة فقال : يا محمد ، أنت خير أم عبد الله ؟ فسكت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال : أنت خير أم عبد المطلب ؟ فسكت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال : فإن كنت تزعم أن هؤلاء خير منك ، فقد عبدوا الآلهة التي عبت ، وإن كنت تزعم أنك خير منهم فتكلم حتى نسمع قولك ، إنا والله ما رأينا سخلة قط أشأم على قومك منك ; فرقت جماعتنا ، وشتت أمرنا ، وعبت ديننا ، وفضحتنا في العرب ، حتى لقد طار فيهم أن في قريش ساحرا ، وأن في قريش كاهنا . والله ما ننظر إلا مثل صيحة الحبلى أن يقوم بعضنا إلى بعض بالسيوف ، حتى نتفانى – أيها الرجل – إن كان إنما بك الحاجة جمعنا لك حتى تكون أغنى قريش رجلا ، وإن كان إنما بك الباءة فاختر أي نساء قريش [ شئت ] فلنزوجك عشرا . فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” فرغت ؟ ” قال : نعم فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –

Berkata Al Imam Al Alim Abd bin Hamid didalam musnadnya: telah berkata kebadaku Ibn Abi syu’bah, telah menceritakan kepada kami Ali ibn Mishri dari Al Ajlah, dari Az Zayyal ibn Harmalah Al-Asadi, dari Jabin ibn Abdullah r.a. berkata: “Pada suatu hari orang-orang Quraisy berkumpul, lalu mereka mengatakan: Carilah orang yang paling pintar diantara kalian dalam masalah sihir, meramal dan syair. Lalu suruh dia mendatangi lelaki ini (maksudnya: Nabi Muhammad Shalallahu ´alaihi wa Salam) yang telah memecah belah persatuan kita, memberantakan urusan kita, dan mencaci maki agama kita. Hendaklah dia berbicara denganya dan kita lihat apa jawabannya terhadapnya“.

Sebagian dari Mereka berkata:“ Kami tidak mengetahui orang yang dapat bebuat seperti itu selain Utbah bin Rabi’ah”. Lalu mereka berkata: “Engkau yang maju ya Abu Walid (Utbah)“. Maka Utbahpun mendatangi Rasulullah dan berkata:

“Ya Muhammad, Mana yang lebih baik Engkau ataukah Abdullah?“. Rasulullah Shalallahu ´alaihi wa Salam diam. Lalu Utbah bertanya lagi: “Mana yang lebih baik engkau ataukah Abdul Muthalib“. Rasulullah (kembali) diam. Utbah melanjutkan: “Jika engkau mengaku bahwa mereka semua lebih baik daripada kamu, ketahulah bahwa mereka telah menyembah sembahan yang telah kamu hina itu. Dan jika engkau mengira bahwa dirimu lebih baik daripada mereka, maka berbicalah agar kami dapat mendengar perkataan yang akan kamu ucapkan.”

“Sesungguhnya demi Allah aku tidak pernah melihat seekor anak kambingpun yang lebih mendatangkan kesialan pada kaummu daripada kamu, Kamu memecah belah persatuan kami, membrantakan urusan kami, mencela agama kami, mencaci maki agama kami, dan kamu mempermalukan kami di depan bangsa arab. Bahkan telah tersebar dikalangan mereka bahwa di dalam kabilah Quraisy, seorang ahli sihir, dan terdapat di kabilah quraisy seorang peramal. Demi Allah, tidaklah kami menunggu melainkan seperti erangan wanita hamil, sebagian kami bangkit dan menebas sebagian yang lain, hingga kami saling bunuh.”

“Wahai anak muda, jika kamu melakukan semua ini karena menginginkan sesuatu, kami akan mengumpulkan harta untukmu sehingga kamu menjadi orang Quraisy paling kaya. Dan jika kamu melakukan semua ini karena ingin menikah, pilihlah wanita-qanita quraisy [yang kau inginkan] kami akan menikahkanmu dengan sepuluh wanita.”

Lalu Rasulullah shalallahu ´alaihi wa Salam berkata: “sudah wahai Utbah?“ Utbah menjawab “ya“. Lalu Rasulullah shalallahu ´alaihi wa Salam berkata:

( بسم الله الرحمن الرحيم . حم تنزيل من الرحمن الرحيم ) حتى بلغ : ( فإن أعرضوا فقل أنذرتكم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود)

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. (Beliau lalu membaca al-qur’a) Haa miim. Diturunkan dari Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang… (hingga sampai dengan Firman-Nya)…Jika mereka berpaling maka katakanlah “aku telah memberikan peringatakan kepadamu dengan petir seperti halnya petir yang menimpa kaum Aad dan kamu tsamud“

فقال عتبة : حسبك ! حسبك ! ما عندك غير هذا ؟ قال : ” لا ” فرجع إلى قريش فقالوا : ما وراءك ؟ قال : ما تركت شيئا أرى أنكم تكلمونه به إلا كلمته . قالوا : فهل أجابك ؟ [ قال : نعم ، قالوا : فما قال ؟ ] قال : لا والذي نصبها بنية ما فهمت شيئا مما قال ، غير أنه أنذركم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود . قالوا : ويلك ! يكلمك الرجل بالعربية ما تدري ما قال ؟ ! قال : لا والله ما فهمت شيئا مما قال غير ذكر الصاعقة .

Utbah berkata:“ Cukup ! Cukup ! apakah kamu tidak memiliki selain ini?.

Rasulullah Berkata:“ tidak”.

Lalu Utbah kembali kepada orang-orang quraisy.

Dan mereka lalu bertanya “Apa yang terjadi?”.

Utbah menjawab: ”Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menurutku akan kamu katakan melainkan aku katakan kepadanya.”

Mereka bertanya “Apa dia menjawabmu?”.

Utbah menjawab: “Ya”.

Mereka kembali bertanya “apa yan dia katakan?”.

Utbah menjawab “ Tidak. Demi yang telah menancapkan ka’bah sebagai bangunan. Tidaklah aku mengerti sedikitpun yang ia katakan, selain sesungguhnya ia telah mengingatkan kalian dengan petir yang telah menimpa kaum Aad dan Tsamud.”

Mereka mengatakan “Celakalah kamu! Kamu diajak bicara oleh orang itu dengan bahasa arab dan kau tidak memahami apa yang dia katakan?”.

Utbah menjawab: ”Tidak demi Allah, aku tidak mengerti sedikitpun dari yang ia katakan selain masalah petir”.

*****
Mmemang tidak mudah mengajak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Di masyarakat selalu ada orang-orang, tokoh-tokoh, pejabat-pejabat yang tak mau berubah, yang menganggap apa yang telah dilakukan dan diputuskan nenek moyang dan para pendahulu adalah final. Tak mungkin berubah. Harga mati. Dan mereka siap melakukan apapun untuk mempertahankannya.

Tetapi, sejarah juga mencatat bahwa dunia ini terus berubah. Meski dihalang-haangi sedemikian rupa dengan kekuatan yang nyaris tak terkalahkan. Neski di sana ada tak terbilang orang yang siap menjaganya sebagai harga mati.

Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan terjadi di mana pun dan pada zaman apapun. Perubahan merupakan hukum alam yang tak mungkin di lawan.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim. Wallahu a’lam. []

Ustadz Choirul Anam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *