Monday, October 23Media Muslim

Perumpamaan Persaudaraan Seakidah: Tafsir QS. Al-Hujurat [49]: 10

foto: tsaqafah.id


MUSTANIR.COM, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kalian menjadi golongan yang dirahmati.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)

Dalam ayat yang agung ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengumpamakan hubungan di antara orang-orang yang beriman sebagai hubungan saudara senasab (ikhwah). Kata ikhwah (إخوة) adalah jamak dari akh[un] (أخ) sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sikkit , yang berkonotasi ikatan persaudaraan karena nasab atau sedarah. Dalam Mukhtar al-Shihhah:

وَأَكْثَرُ مَا يُسْتَعْمَلُ (الْإِخْوَانُ) فِي الْأَصْدِقَاءِ وَ (الْإِخْوَةُ) فِي الْوِلَادَةِ

“Kata al-ikhwan banyak digunakan untuk menggambarkan hubungan pertemanan, sedangkan kata al-ikhwah banyak digunakan untuk hubungan sedarah (saudara kandung).”

Artinya, orang-orang beriman diumpamakan seperti saudara senasab dalam hal saling mengasihi. Dalam ilmu balaghah, ini termasuk bentuk penyerupaan yang kuat (tasybîh balîgh), yang diungkapkan tanpa menyertakan perangkat penyerupaan (adat al-tasybîh) dan gambaran dari irisan kesamaannya (wajh al-syabah) .

Keistimewaan ikatan tersebut diperkuat dengan adanya pengkhususan (qashr) dari ungkapan kata innamâ (إِنَّمَا) yang mengawali topik informasi. Dimana dalam ilmu balaghah, qashr berfaidah sebagai penegasan terhadap apa yang dimaksud, meringkas perkataan, dan menguatkan pengaruhnya dalam benak pikiran.

Belum lagi jika dirinci kembali pembahasannya, untuk sampai pada kesimpulan ikatan yang benar (shahih) untuk mengikat kaum Muslim adalah ikatan akidah, bukan ikatan lainnya.

Pembahasan ini, dijelaskan dalam buku kajian tafsir dan balaghah QS. Ali Imran [3]: 104.

Yakni berkenaan dengan pandangan Al-‘Allamah Abdul Qadim Zallum yang menegaskan bahwa para kader kelompok dakwah, wajib diikat oleh ikatan yang benar (shahîh), menguatkan penjelasan al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani yang memaparkan ikatan yang benar dan ikatan yang batil. [tsaqafah.id]

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *