Monday, April 23Media Muslim

Sari Konde ‘Sukma’, Berujung Nestapa | Mustanir Media

foto: Tribunnews.com


MUSTANIR.COM, Sulutan api konflik SARA kembali terulang. Setelah kasus panjang pelecehan surat Al Maidah 51, muslim Indonesia kembali diresahkan dengan beredarnya video pembacaan puisi oleh Sukmawati Soekarnoputri yang di dalam bagiannya ada yang menyinggung mengenai azan dan cadar yang merupakan bagian dari ajaran islam.

Puisi itu dibacakan Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Sukmawati diberi kesempatan maju ke panggung dan membacakan Puisi ‘Ibu Indonesia’ karyanya sendiri. (m.detik.com-02/04/2018). Isi lengkap puisi bisa di akses di (detik. com-02/04/18).

Kapitra Ampera, Pengurus Persaudaraan Alumni 212,menyatakan bahwa dirinya telah menyimak video Sukmawati tersebut. Menurut Kapitra ada dugaan pelanggaran dalam puisi itu.

“Saya mendapatkan video itu tadi pagi. Sudah saya cermati ada mengenai adzan dan cadar, menurut saya ada dugaan kuat mendiskreditkan agama,” ujar, Kapitra Ampera (detik.com-Senin 2/4/2018).

Menurut Kapitra, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan adzan dengan Kidung Pancasila. Adzan yang merupakan panggilan untuk ibadah, lanjut Kapitra, tidak bisa dibandingkan dengan hal lain. (detik.com-Senin 2/4/2018)

Sontak gelombang respon atas puisi Sukmawati menimbulkan polemik gaduh di seantero negeri. Mulai dari intelektual muslim, ahli hukum, ulama, politikus, budayawan, hingga emak emak yang merasa tersakiti dengan puisi tersebut memberikan respon yang beragam.

Menyadari polemik yang timbulkan Sukmawati Soekarnoputri melayangkan permintaan maaf. “Sebelumnya karena karya sastra puisi “Ibu Indonesia” ini telah memantik kontroversi terutama di umat Islam, dari lubuk hati paling dalam saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin kepada semua elemen bangsa Indonesia yang merasa tersinggung dengan puisi tersebut,” ucapnya (www.tribunnews.com-04/04 /2018)

Nasi telah menjadi bubur, kata-kata yang mengandung tendensi penodaan agamapun tak bisa ditarik kembali. Meskipun umat islam telah menerima permintaan maaf Sukmawati namun permintaan maaf tersebut tidak bisa menghapuskan atau menggugurkan perbuatan pidana.

Mengapa kejadian melecehkan agama islam seperti ini terus berulang di negeri yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Sebuah pertanyaan besar yang menggelitik, tentu sebagai orang biasa yang mencoba mengikuti sederet cerita kasus penodaan agama.

Kejadian ini sudah cukup menjadi bukti bahwa sistem demokrasi liberal yang menjunjung kebebasan ini berhasil membuat rakyat “terlalu” bebas dalam mengekspresikan diri. Atas nama HAM mereka pembenci Islam merasa mempunyai hak untuk berkata dan bertindak apapun. Wajar kalau ada yang berani menduduki dan menginjak al Qur’an, melecehkan gerakan sholat, melecehkan ajaran islam, melecehkan ulama dan lainnya.

Menyuburnya kasus penodaan agama juga diperparah dengan penegakan hukum yang lemah. Bahkan dalam beberapa kasus penodaan agama sebelum nya tuntutan yang diajukan umat islam tidak digubris dan lambat direspon oleh aparat.

Ketidakpastian Hukum di Indonesia inilah serta, lemah dan lambannya proses hukum memberikan angin segar bagi para pembenci Islam untuk terus tumbuh subur di Indonesia.Diperparah dengan Jerat hukum yang ringan bagi pelaku penodaan agama yang tidak mampu memberikan efek jera. Yang jika mata rantai ini tidak diputus, akan menimbulkan perpecahan yang tentunya akan berakibat buruk terhadap stabilitas nasional.

Dengan kualitas penegakkan hukum yang buruk sebenarnya sama saja telah mencoreng nama baik penegak hukum dan sekaligus mencederai keadilan di Negeri ini. Dengan situasi keadilan yang buruk apabila tidak segera diatasi akan memicu berbagai tindakan – tindakan anarkis, juga akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap hukum oleh masyarakat.

Dengan keadaan seperti itu masyarakat akan mencari keadilan dengan cara mereka sendiri, contohnya main hakim sendiri yang merupakan perwujudan rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum selain merasa tidak adanya keadilan juga karena disebabkan penegak hukum melakukan hal yang tidak lain hanyalah sebuah permainan hukum. Masyarakat cukup pandai melihat berbagai kasus yang terjadi dimana adanya diskriminatif.

Jauh beda sistem Islam dengan sistem demokrasi saat ini dalam memutus mata rantai kasus penodaan agama. Islam dengan seperangkat aturannya mampu menyelesaikan segala permasalahan tanpa menimbulkan permasalahan baru sebagaimana tumpang tindihnya hukum di negeri ini.

Dalam Islam, penodaan terhadap agama sama halnya dengan menghina agama. Istilah penghinaan agama dikenal dengan sabb ad-diin. Penghinaan itu meliputi penghinaan terhadap sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran dan hadis serta menyelisihi dan berpaling dari hukum yang ada pada keduanya; penghinaan terhadap Allah dan rasul-Nya.

Dalam Islam, penghinaan terhadap agama bertentangan dengan Al-Quran dan hadis, bahkan perbuatan itu merupakan kemurtadan jika yang melakukan adalah muslim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 57 – 58).

Ayat tersebut menjelaskan perbedaan antara perbuatan menyakiti Allah dan Rasul serta menyakiti orang mukmin. Perbuatan menyakiti orang mukmin mempunyai implikasi bagi pelakunya yaitu telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

Sedangkan perbuatan menyakiti Allah dan Rasul, bagi pelakunya diancam dengan laknat di dunia dan akhirat serta siksaan yang menghinakan.

Ibnu Qudamah menyebutkan, “Siapapun yang menghina Allah, maka dia telah kafir, baik perbuatannya itu dilakukan dengan bergurau maupun dengan sungguh-sungguh.”

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menuturkan bahwa menghina agama termasuk menghina Allah merupakan dosa besar. Perbuatan ini dapat membatalkan keislaman dan menjerumuskan kepada kemurtadan. Jika orang yang menghina agama atau menghina Allah itu berasal dari orang muslim sendiri, maka dia menjadi murtad (keluar dari Islam) dan kafir yang diseru untuk bertaubat.

Jika dia bertaubat, maka kembali menjadi muslim. Namun jika tetap dan tidak mau bertaubat, maka pihak berwenang (ulil amri) dapat menjatuhkan hukuman bunuh setelah dilakukan proses pengadilan di mahkamah syariah. Berkaitan dengan taubat, maka pelaku penghinaan agama itu tetap diajak dan dirangkul untuk bertaubat dengan harapan semoga Allah memberikan hidayah dan menunjukkan kebenaran kepadanya.

Demikian juga dijatuhkan hukuman secara bertahap melalui hukuman ta’zir (hukuman yang ditetapkan oleh hakim) berupa hukuman dera dan kurungan penjara sehingga orang tersebut tidak lagi melakukan perbuatan pidana yang dimaksud.

Larangan penghinaan terhadap agama tidak hanya berlaku kepada non-muslim, tetapi juga sebaliknya. Umat muslim pun dilarang menghina agama lain. Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am (6): 108).

Maka sesungguhnya hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah dan Sistem manakah yang lebih baik dari sistem Islam karena ia berasal dari Allah yang maha baik. Dengan sistem yang baik akan mencetak muslim yang berkualitas.

Saat ini kaum muslimin membutuhkan pemimpin yang saleh dan mampu mensalehkan rakyatnya, hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan menerapkan hukum Islam secara kaffah (sempurna). Sehingga, dengan diterapkannya hukum Allah, musuh-musuh Islam akan berpikir dua kali akan konsekuansi jika menistakan agama Allah yang lurus ini. Selain itu, kaum muslimin akan meraih kembali kejayaan Islam yang pernah memimpin peradaban dunia selama 13 abad.

Karena Islam diturunkan untuk semua manusia, maka yang menjadi maju peradabannya bukan kaum muslimin saja, tapi semua manusia yang berada di bawah naungan syariat Islam yang mulia. Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ana Ummu Al Fatih
Kedamean, Gresik.

Share This :