Wednesday, January 17Media Muslim

SEJARAH GERAKAN SHALAT JUM’AT DAN PERGERAKAN MASSA 212

MUSTANIR.COM, Adanya aksi bela Islam yang diiringi gerakan shalat Jumat berjamaah di Jakarta, Indonesia merupakan langkah awal pergerakan untuk mencapai kejayaan Islam. Gerakan ini disinyalir sebagai formulasi persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Basuki Tjahaja Purnama muncul dengan pernyataan yang kontroversial. Pernyataan yang menyeretnya dalam kasus dugaan penistaan agama. Apa yang ditunjukan Basuki secara tidak langsung menjadi puncak dari berbagai kebijakannya yang mengancam dan merusak persatuan bangsa. Dari situlah muncullah aksi bela islam 212.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar melaksanakan shalat Jumat berjamaah dengan tujuan sebagai persiapan hijrahnya nabi dari Mekah ke Madinah. ketika itu Nabi Muhammad mengutus salah seorang sahabat yaitu Mush’ab bin Umair ke Madinah dalam rangka untuk megajarkan Alquran, pada saat itulah Shalat Jumat dimulai.

Tiga hari sesudahnya, Nabi mendirikan sebuah masjid. Masjid yang pertama adalah Masjid Quba. Keesokan harinya, tepat di Hari Jumat Nabi Muhammad bertemu dengan sahabatnya di Madinah yang akan mengadakan Shalat Jumat. Rosulullah dan para sahabat pun mengadakan Shalat Jumat bersama. Di sanalah, tepatnya di sebuah lembah yang bernama Wadi Ranuna beliau melaksanakan shalat jumat untuk pertama kalinya.

Hari Jumat merupakan hari yang paling utama dalam sepekan menurut ajaran Islam. Jumat dikenal sebagai hari yang penuh berkah. Allah Ta’ala mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari ummat-ummat terdahulu. Dan di antara beberapa keutamaan dhari yang agung ini adalah sebagai berikut:

Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Hari Jumat adalah satu-satunya hari yang tertera sebagai nama sebuah surat dalam al-Quran dan terdapat ayat yang menyebutkan kata Jumat sebagai berikut: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahu”(Al-Jumu’ah : 9). [1]

Shalat Jumat bisa dianggap sebagai muktamar mingguan (mu’tamar usbu’iy) karena pada hari Jumat inilah umat muslim dalam satu daerah tertentu dipertemukan. Mereka dapat saling berjumpa, bersilaturrahim, bertegur sapa, saling menjalin keakraban tanpa adanya perbedaan soaial. Sesibuk apa pun orang Islam, pada hari jumat ketika azan berkumandang, semuanya sadar untuk menghentikan segala kegiatan, bergerak untuk shalat, rukuk dan sujud secara berjamaah di masjid-masjid

Di lihat dari segi historis bahwa umat terdahulu dapat menaklukan musuh-musuh Islam dengan shalat jumat berjamaah seperti pada masa Dinasti Fathimiyah yang di komandoi oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dan Dinasti Utsmani yang komandoi oleh Muhammad Al-Fatih.

Di Indonesia, gerakan shalat Jumat berjamaah telah terealisasikan dengan agenda aksi 212 di Monas pada hari jumat. Pada hari itu jutaan jiwa rakyat tumpah ruah memadati ibu kota negara, Jakarta. Meraka datang dari berbagai pelosok dan penjuru negeri untuk melaksanakan shalat jumat berjamaah.

Para tokoh politik, pemuka agama, organisasi masyarakat, pemuda, mahasiswa dan rakyat bersatu pada momentum tersebut untuk memperbaiki bangsa. Merajut kebersamaan, menghilangkan berbagai ego, bersatunya berbagai elemen, dan menundukkan gengsi. Yang tampak adalah saling berkomunikasi dan berkonsolidasi satu sama lain demi teraturnya aksi 212. Seluruh jamaah yang hadir diyakinkan bahwa berjuang untuk kepentingan Islam adalah Jihad Fisabilillah

Aksi 212 sangat layak untuk di apresiasi sebab aksi tersebut telah mampu membuktikan tidak saja kepada Indonesia, tetapi kepada dunia bahwa begitu banyaknya umat islam yang bergabung dalam Aksi 212. Tetapi tetap mampu menyampaikan pesan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia. Keyakinan Islam mengajarkan bahwa kesalehan pribadi (individual piety) tak akan bermanfaat ukhrawi tanpa di ikuti dengan kesalehan umum (social piety).

Suasana tersebut terkesan syahdu dibawah langit mendung, sesekali diiringi gerimis. Tausiah, orasi dan suara takbir bergantian bersahutan. Beberapa orang nampak mulai menangis ketika doa demi doa dipanjatkan. Puncaknya ketika kumandang shalat Jumat dilafalkan. Langit yang sepanjang pagi mendung , akhirnya menjadi hujan deras. Hujan yang sebagian orang menggunakannya untuk mengambil air wudu. Tangis kembali pecah ketika Imam shalat membaca doa qunut pada rakaat kedua shalat Jumat. Air hujan bercampur dengan air mata jutaan orang menjadi saksi pada siang itu.[2]

Keterlibatan umat Islam di dalam kehidupan politik kebangsaan adalah ibadah. Sebuah hadis Nabi Muhammad yang menyatakan :”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya” justru memacu umat islam dalam kehidupan publik, termasuk partisipasi politik dan demokrasi.[3]

Maka dari itu saatnya semua pihak menahan diri dan berefleksi untuk kebaikan bersama dan masa depan bangsa. Ke dalam, umat Islam harus mampu belajar dari fenomena aksi 212. Persatuan perlu terus dijaga. Umat Islam sebagai kekuatan sosial harus terus menerus di jaga untuk membawa mashalat bagi bangsa.

Kita sebagai umat Islam harus mengubur jiwa yang bermental budak dan berjiwa kerdil. Kita sebagai umat Islam mempunyai kelebihan dibanding agama-agama lain yakni di Ridhoi oleh Allah dan akan tetap dijaga sampai hari kiamat. Kita akan merebut kekuasaan dan kebebasan di Tanah air kita dengan aksi 212.

Pergerakan massa 212 yang dibarengi dengan shalat Jumat berjamaah merupakan sebuah momentum yang sangat langka. Sangat susah dan mahal untuk mengadakan agenda tesebut. Penulis berharap agar pembaca dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini sebagai bentuk antisipasi dalam menghadapi masalah yang akan datang. Dan juga perlu di tanamkan ke dalam masing-masing Individu bahwa Islam itu bisa Jaya dengan adanya Persatuan dari seluruh masyarakat Islam Indonesia.

Oleh : Hadi Wiryawan

Share This :