Thursday, July 19Media Muslim

Warisan Peradaban Islam di Marrakesh

Koubba Ba’adiyn di Kota Marrakesh, Maroko, merupakan salah satu peninggalan Dinasti Al-Murabitun. foto: rol


MUSTANIR.COM, Marrakesh adalah kota penting di Maroko selain Casablanca. Dari sisi sejarah, Marrakesh adalah kota yang menjadi simbol kejayaan Maroko, sebuah negeri di Afrika Utara yang sangat dekat dengan Asia maupun Eropa. Kota ini dibangun pada 1062 M oleh Yusuf bin Tasyfin atau Ibnu Tasyfin dari Dinasti Murabitun. Dinasti ini menguasai Maroko setelah kekuasaan Dinasti Fatimiah di negeri itu tumbang.

Kini, Marrakesh menjadi salah satu kota budaya yang dilindungi UNESCO. Sangat pantas memang jika UNESCO melindungi kota ini. Sebab, Marrakesh memiliki banyak sekali peninggalan masa kejayaan Islam, seperti Madrasah Bin Yusuf, Masjid Kasbah, Masjid Mansouria, dan Masjid Bab Doukkala. Ada pula sejumlah istana, seperti Istana El Badi dan Istana Bahia.

Sebagai kota tua yang dijadikan objek wisata, Marrakesh juga banyak memiliki museum, seperti Museum Dar Si Said, Museum Marrakesh, Museum Bert Flint, Museum Seni Islam, dan lainnya. Dari sekian banyak peninggalan Islam itu, mari kita sambangi tiga di antaranya. ¦

Masjid Kasbah

Selain Masjid Kutubiyah, Marrakesh memiliki mas jid lain yang tak kalah legendaris, salah satunya Mas jid Kasbah. Usianya termasuk sangat tua karena ia dibangun pada 1190. Dari sisi arsi tektur, mas jid ini sangat jelas meng usung fitur-fitur gaya arsitektur Almohad. Beberapa kali dire novasi, Masjid Kasbah kini dalam kondisi sangat baik dan selalu di penuhi jamaah untuk ber ibadah.

Jika di tempat lain ada masjid yang membuka pintunya untuk non-Muslim, tak demi kian halnya dengan Masjid Kasbah. Pintu masuk masjid ini hanya terbuka untuk umat Islam. Sesuai de ngan namanya, masjid ini ber lokasi di Kasbah, salah satu ka wasan di selatan Marrakesh.

Istana El-Badi

Bangunan ini merupakan simbol keme nang an bangsa Maroko atas kekuasaan Portugis. Istana El-Badi dibangun pada akhir abad ke-16 oleh Sultan Ahmad al-Mansur, penguasa keenam dari Dinasti Saadi. Sultan al- Mansur sengaja membangun istana ini untuk merayakan kemenangan tentaranya atas pasukan Portugis dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran Ksar el-Kebir (Tiga Raja).

Berkat kemenangan itu, Maroko yang pada masa itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani (Ottoman) berhasil dilindungi dari penjajah Portugis. Sayang nya, ketika Sultan Moulay Ismail naik takhta pada 1696, hampir semua bangunan peninggalan Dinasti Saadi dihancurkan, termasuk Istana El- Badi.

Penguasa Dinasti Alawi ini kemudian mengambil beberapa ornamen penting dari bangunan Istana El-Badi untuk digunakan dalam pembangunan istana Kesultanan Alawi di Kota Meknes, Maroko. Saat ini, para wisatawan hanya bisa menyaksikan beberapa bagian saja dari Istana El-Badi yang masih utuh.

Madrasah Bin Yusuf

Ini adalah sekolah teologi Islam terbesar di Maroko. Namanya diambil dari nama Sultan Ali ibn Yusuf yang berjasa dalam pembangunan dan perluasan Kota Marra kesh. Sekolah tinggi ini didirikan pada abad ke-14 oleh Sultan Abu al-Hasan. Menerapkan gaya arsitektur Spanyol Moor, bangunan ini dibuat pada 1557-1574. Di sekolah ini terdapat asrama berisi 130 kamar yang mampu menampung 900 siswa.

Sebuah masjid dengan nama yang sama terletak berdampingan dengan Madrasah Bin Yusuf. Dibangun pada abad ke-12, masjid ini memiliki menara setinggi 40 meter yang sangat khas Maroko. Sungguh mengagumkan bahwa ada sekolah megah seperti ini di tengah hiruk-pikuk jalanjalan Kota Marrakesh. Pada 1960, Madrasah Bin Yusuf ditutup sementara untuk diperbaiki, lalu dibuka kembali pada 1982 sebagai salah satu bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luas.
(republika.co.id/25/6/18)

Share
Share This :