Friday, August 18Media Muslim

William Pickard: Alquran Kebenaran Kekal yang Membuatku Bahagia

William Pickard: Alquran Kebenaran Kekal yang Membuatku Bahagia

MUSTANIR.com,  JAKARTA — Setiap bayi yang dilahirkan ke dunia dalam keadaan suci sesuai fitrah Allah SWT. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Fakta yang termaktub dalam sebuah sabda Rasulullah SAW itu, menggugah hati pemilik nama lengkap William Burchell Bashyr Pickard ini, memeluk Islam. Pickard butuh bertahun-tahun menyadari hingga akhirnya kembali ke fitrahnya.

Sejak di sekolah hingga kuliah, Pickard selalu disibukkan dan tuntutan hidup sehari-hari. Padahal, kariernya ketika muda tidaklah brilian, hanya terus menanjak.

Pickard lahir dari keluarga Nasrani. Sejak kecil sesuai ajaran agamanya saat itu, dia diajarkan untuk hidup baik, meyakini, dan menyembah tuhannya saat itu adalah sebuah kebenaran yang menyenangkan.

“Jika saya menyembah apa pun, itu merupakan tindakan seorang bangsawan dan penuh keberanian,” kata pria kelahiran London, Inggris 31 Juli 1889 ini.

Petualangan Pickard menemukan hidayah berawal dari kisah perantauannya ke Afrika Tengah. Sosok yang pernah belajar di Cambridge ini mendapatkan pekerjaan bidang administrasi protektorat di Uganda.

Selama di negeri orang, cakrawalanya kian terbuka. Hidupnya lebih berwarna dibandingkan selama berada di tanah kelahirannya, Inggris. Pickard pertama kalinya berbaur dengan masyarakat yang berbeda ras. Ada persaudaraan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Mereka juga hidup dengan sederhana, tetapi tetap penuh kebahagiaan.

Belakangan, negara di wilayah timur menarik perhatiannya. Terlebih, setelah dia belajar di Cambridge dan membaca kisah legendaris dari timur 1001 Malam.

“Saya mengubah cerita tersebut dan kehidupan liar saat mengembara, saya dapat memimpin di Protektorat Uganda, dan mereka tidak mengasingkan saya di Timur,” kata dia.

Suasana suka cita di Uganda yang dirasakan Pickard tak berlangsung lama. Perang Dunia I meletus. Dia kembali pulang ke Eropa dan terjatuh sakit. Setelah pulih, Pickard memilih mendaftar masuk tentara Angkatan Darat, tapi pendaftaran tersebut ditolak.

Untuk mengurangi kekecewaan, dia mendaftar di Yeomanry. “Entah bagaimana, saya dapat lolos dari pemeriksaan dokter dan bergabung dengan para relawan sebagai seorang polisi,” ujar dia.

Sebagai polisi, dia pernah bekerja untuk Prancis di Front Barat. Pickard pernah ikut bertempur dalam Perang Somme 1917. Ketika perang tersebut, dia terluka dan menjadi tawanan perang. Setelah dibebaskan, dia melakukan perjalanan melalui Belgia menuju Jerman.

Untuk menyembuhkan sakitnya, selama di Jerman dia memilih tinggal di rumah sakit. Di sinilah, dia menyaksikan kepedihan para korban perang. Dia melihat orang Rusia yang mengalami wabah disentri. Pickard sendiri tak kalah sulitnya, selain luka akibat perang, dia tak luput dari derita kelaparan.

Dia dikirim ke Swiss untuk dirawat di rumah sakit dan dioperasi. “Saya ingat ketika di Swiss adalah jalan saya mengenal Alquran,” kata dia. Sebelum tiba di Swiss, Pickard pernah menulis salinan Alquran di Jerman.

Dia berharap, salinan itu dikirim kepadanya, kelak. Setelah beberapa tahun, dia baru mengetahui salinan Alquran telah dikirim, tetapi tidak pernah sampai kepadanya.

Setelah melakukan perawatan dan operasi lengan dan kakinya, kesehatannya berangsur-angsur pulih. Dia dapat pergi keluar sekadar melihat sekeliling.

Saat itu dia membeli salinan Alquran berbahasa Prancis yang menjadi harta yang paling disayanginya. Dia amat senang bisa mendapatkan salinan Alquran tersebut.

“Di sana, saya  membacanya dengan gembira, seolah secercah kebenaran kekal bersinar dengan penuh berkah,” ujarnya. Saat itu, tangan kanannya masih belum dapat digunakan menulis. Dia berlatih menulis Alquran dengan tangan kiri.

Keterikatannya dengan Alquran lebih jauh dibuktikan saat dia mengenang salah satu kisah 1001 Malam. Kisah tersebut bercerita mengenai seorang pemuda yang ditemukan hidup sendirian di kota mati.

Sang pemuda duduk membaca Alquran tanpa menyadari keadaan sekelilingnya. Di Swisslah, dia benar-benar meyakini kebenaran Islam dan menjadi seorang Muslim pada usia 27 tahun.

Pada Desember 1918 setelah penandatanganan gencatan senjata, Pickard kembali ke London. Setelah tiga tahun kemudian pada 1921 dia mendaftar masuk ke Universitas London King’s College, jurusan sastra.

Salah satu pelajaran yang dipilihnya adalah bahasa arab. Perkuliahan bahasa arab yang paling berkesan adalah ketika dosennya, Belshah, asal Irak menceritakan mengenai Alquran.

Tertarik Alquran

Dosen tersebut pernah mengatakan, ingin mempercayainya atau tidak, Alquran merupakan kitab yang menarik dan layak dipelajari. Dosen tersebut kaget ketika Pickard menjawab bahwa dia mempercayai Alquran.

Pickard pun diundang oleh dosen yang terkenal dengan irit bicara tersebut ke tempat ibadah Notting Hill Gate. Setelah undangan pertama, dia sering datang dan mengetahui lebih banyak praktik beribadah umat Islam.

Hingga 1922 dia secara terbuka bergabung dengan komunitas Muslim. Sejak bergabung dengan komunitas tersebut, dia telah hidup sebagai seorang Muslim baik secara teori ataupun praktik sejauh kemampuannya.

Setelah mempelajari Islam, dia mengetahui bahwa kekuatan, kebijaksanaan, dan belas kasih Allah tidak terbatas. Pengetahuan-Nya amat luas melebihi cakrawala.

Setelah melakukan perenungan selama hidup, dia meyakini satu-satunya pakaian yang sesuai untuk dikenakan adalah penghambaan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Pickard wafat pada 25 Januari 1973 di usia 83 tahun.

Beberapa buku karya pickard di antaranya The Beauties of Islam, a New World, The Adventures of Alcassim dan Layla and Majnun: an english poem in the persian vein. Salah satu bukunya yang berjudul The Beauties of Islam berisi mengenai inti ajaran Islam, yakni rukun Islam.

Dia menjelaskan Tuhan menurut Islam. Hanya ada satu Tuhan dan Dia adalah Allah SWT. Selain itu, dia juga membahas mengenai satu-satunya petunjuk umat manusia yang benar, yaitu Alquran. Bahwa Alquran akan terjaga kemurniannya hingga akhir zaman.

Dia juga menjelaskan, Islam mengatur seluruh bagian kehidupan setiap hari. Penjelasan singkat mengenai kewajiban shalat, berpuasa, zakat, dan beribadah haji serta wali Allah Muhammad SAW ditulis dalam buku tersebut.

Tak hanya keyakinan dan praktik ibadah. Kehidupan sosial manusia pun diatur dalam Islam, dia menjelaskan  adanya toleransi, menikah, dan aturan mengenai hubungan dengan sesama manusia lainnya. (republika.co.id, 13/6/2017)

Share Button
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *